Categories

Meta

Archives


« Mau Sehat? Menulislah! | Main | Perpustakaan di Pojok Rumah »

Ensiklopedia, dari Dulu sampai Sekarang

By sabrul.jamil | May 19, 2008

books.jpgIlmu, kata Sayyidina Ali, lebih utama ketimbang harta. “Ilmu menjagamu, sedangkan harta, engkaulah yang harus menjaga. Harta berkurang jika dibelanjakan, sedangkan ilmu justru tumbuh subur jika ‘dibelanjakan’ - yakni diajarkan kepada orang lain.”

Saat ini banyak pembicara seminar yang mendapat bayaran gede setiap kali memberikan ceramah. Pihak penyelenggara tidak merasa rugi membayar mahal, demikian pula para peserta. Mereka menghargai ilmu yang dicurahkan pembicara tadi. Jadi, pernyataan Imam Ali di atas terasa sekali relevansinya, bukan?

Tapi penghargaan terhadap ilmu memang masih belum merata di tubuh umat Islam. Masih banyak yang lebih menghargai makanan yang diragukan kadar gizinya, ketimbang membeli buku-buku untuk gizi otak mereka, atau megnhadiahkan ensiklopedia mini untuk anaknya.

Ensiklopedia? Anda tentu tahu itu. Kata ini berasal dari bahasa Yunani, enkykliospaideia yang artinya “pengajaran menyeluruh”. Orang yang disebut-sebut sebagai orang pertama yang menyusun ensiklopedia adalah Speusippus (407-339 SM), keponakan Plato yang orang Yunani itu. Ensiklopedia dimaksudkan sebagai rujukan yang mencakup seluruh pengetahuan paling mutakhir, atau bisa juga sekelompok disiplin ilmu. Keterangan ini saya kutip dari kumpulan tulisan Selisik-nya Putut Wijanarko yang diberi judul Elegi Gutenberg.

Masih dari buku yang sama, dari tradisi Romawi, upaya penulisan sudah dimulai sejak 183 SM. Sumbangan terpenting adalah karya Pliny yang Tua, Natural History, yang ditulis pada 23-79 M. Ensiklopedia ini mencakup 2.500 bab dan 37 jilid, dan menurut Pliny sendiri, mengandung 20.000 fakta yang disarikan dari 2.000 karya tak kurang dari 100 pengarang. Hebatnya, ensiklopedia ini menjadi rujukan ensiklopedia lain sampai 15 abad kemudian.

Bagaimana dengan dunia Islam sendiri? Secara kasar, tulis Macropaedia Britannica, ensiklopedia-ensiklopedia awal dalam bahasa Arab dapat dibagi dalam dua kategori. Pertama, ensiklopedia yang memang ditujukan kepada orang yang memang ingin memperoleh informasi yang lengkap dan memanfaatkan pengetahuan di dalamnya. Kedua, ensiklopedia yang ditujukan kepada para administrator negara.

Ensiklopedia pertama yang betul-betul ensiklopedia dari Dunia Islam adalah karya Ibn Qutaybah (828-829), seorang pengajar dan ahli filologi, berjudul kitab ‘Uyun Al Akhbar. Akan tetapi, karya Al Khawarizmi, Mafatih Al-Ulum, yang dikompilasi pada 975-977 malah lebih sering dianggap sebagai ensiklopedia pertama dari Dunia Islam. Dia membagi karya ke dalam dua bagian: pengetahuan asli (fiqih, filsafat skolastik, tata bahasa, seni puisi, sejarah) dan pengetahuan asing (filsafat, logika, kedokteran, aritmetika, geometri, astronomi, musik, mekanika, alkimia).

Masih ada karya lain, yaitu karya Al-Nuwairi (1272-1332), sejarahwan asal Mesir, mengompilasi ensiklopedia terbaik dari zaman Mamluk, Nihayah Al Arab fi Funun Al-Adab, dalam 9.000 halaman. Sementara itu, Masalik Al-Abshar karya Al-’Umari (1301-1348) sangat menekankan pada sejarah, geografi dan puisi. Lalu Ibsyihi (1440) menyusun Mustatraf yang mencakup agama Islam, perilaku, hukum, kualitas spiritual, kerja, sejarah alam, musik, makanan dan kedokteran.

Dalam 2.000 tahun terakhir ini, demikian catatan Macropaedia Britannica, telah ada lebih dari 2.000 ensiklopedia di seluruh dunia. Tidak ada sebuah perpustakaan pun yang memiliki semua ensiklopedia itu. Kalaupun mungkin, dibutuhkan 2,5 kilometer untuk semua ensiklopedia itu.

Di jaman internet seperti sekarang ini, para peselancar di dunia maya mempunyai sumber pustaka yang luar biasa hebat, yang disebut search engine atau mesin pencari. Masukkan saja kata yang ingin Anda cari, tekan enter, dan siap-siap menerima muntahan data yang luar biasa banyak. Saking banyaknya, kita akan gelagapan sendiri untuk mencernanya.
Ketika membantu isteri menyiapkan materi tentang ma’rifatul Islam, misalnya, saya memasukkan kata itu di kotak yang disediakan oleh Google (salah satu search engine paling populer), dan muncullah puluhan link yang berkaitan dengan tema tersebut. Kita tinggal mengklik link-link tadi, dan mencari pembahasan yang sesuai dengan kebutuhan kita.

Tidak hanya berisi berbagai informasi teks, mesin pencari seperti Google bahkan mempunyai database gambar. Sambil iseng, saya pernah memasukkan kata Deddy Mizwar. Hasilnya adalah bermunculannya foto-foto aktor tersebut di monitor PC saya, termasuk di dalamnya foto Haji Husin, ketika bermain di Lorong Waktu.

Meski internet semakin populer, namun ensiklopedia dalam bentuk buku tetaplah diminati. Bahkan saat ini sudah bertebaran ensiklopedia-ensiklopedia mini yang tipis, dengan warna-warni cerah yang menarik perhatian. Harganya pun relatif terjangkau, kurang lebih setara dengan beberapa mangkuk bakso. (Jadi, kalau Anda sanggup ‘berpuasa’ bakso selama beberapa hari, Anda bisa menghadiahkan orang yang Anda cintai, atau diri Anda sendiri, dengan satu ensiklopedia berharga).

Tema-temanya pun beragam, seperti tentang tubuh manusia, klasifikasi hewan, kendaraan, alam semesta, berbagai fenomena di alam dan sebagainya. Kita bisa belajar, tanpa harus merasa belajar.

Salah produsen susu instant malah menyisipkan hadiah ensiklopedia menarik di dalam kardusnya. Ada dua belas judul: Tokoh Besar, Keajaiban Dunia, Hewan Laut, Petualangan, Mamalia, Atlas Dunia, Dinosaurus, Transportasi, Teknologi, Ruang Angkasa, Tubuh Manusia, dan Sains di Sekitar Kita. Kualitas isinya pun boleh dipuji. Cukup banyak informasi sederhana yang bahkan orang dewasa pun belum tentu tahu (termasuk saya).
Ensiklopedia adalah bagian dari ekspresi kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Islam, sebagai salah satu peradaban besar yang pernah memimpin dunia, turut memberikan sumbangan di dalamnya, dan bahkan diyakini memberikan dasar-dasar bagi perkembangan sains modern sekarang ini.

Sayangnya, kebanyakan umat Islam saat ini lebih senang mengisi otaknya dengan berbagai informasi tak berguna, seperti gosip tentang selebritis, dan urutan cerita-cerita sinetron yang tidak bermutu.

Namun Saya termasuk yang percaya bahwa Islam akan bangkit kembali. Ketimbang melamun membayangkan kebesaran masa lalu, atau terus menerus meratapi masa kini dan mengkhawatiri masa depan, bukankah lebih menyehatkan jiwa jika kita turut andil dalam membangun kembali kejayaan Islam?

Anda setuju?

Topics: Menulis, informasi |

Comments

You must be logged in to post a comment.